Sabtu, 15 Desember 2012

Resensi novel "Cinta Afika"


Cinta itu nggak melulu manis,
terkadang ada asamnya juga,seperti jeruk.

Judul                    : Cinta Afika
Penulis                : Melia Love
Penerbit              : MEDIA PRESSINDO
Tahun terbit        : Tahun 2012


Fino melempar bola kertas yang terakhir sekaligus yang paling besar. Bola kertas itu melewati Zero yang mengelak sambil menunduk. Bola kertas itu terus bergerak,melayang, dan berputar-putar menuju ke arah seorang gadis yang berjalan sambil membaca buku.
ZZZHTTTT
Dengan sigap gadis itu memiringkan kepalanya ke kanan dengan gerakan badan mengikuti ayunan kepala. Bola kertas itu melewati kepalanya kemudian mendarat mulus di lantai.
“beruntung banget sih lo sheil! gue mupeng banget nih.eh,tapi lo dapet duit dari mana? Jangan bilang dari nyokap lo,karena gue yakin lo masih dapat hukuman pemangkasan uang jajan gara-gara keborosan lo itu” tanya Gita.
“ah,lo kayak nggak tahu gue aja. Buat apa punya pacar tajir kalau nggak di manfaatin,” Sheila menjawab cuek.
“what? Maksud lo Fino?” Sheila hanya menjawab dengan senyum nggak jelas.
Tekad fino sudah bulat,ia akan memutuskan Sheila dan melepaskan semua atribut kemewahannya. Ia lelah menyadari kenyataan bahwa orang-orang di sekelilingnya terbukti hanya memanfaatkannya saja.
Fino memasuki gerbang sekolah barunya.SMA Tunas Harapan. Sekolah ini hampir sama mewahnya dengan sekolah Fino yang dulu. Bedanya adalah siswa yang bersekolah disini tak hanya dari kalangan atas namun anak-anak kurang mampu yang berprestasi di bidang akademik bahkan olahraga. Umumnya mereka mendapatkan beasiswa dari sekolah .
Fino duduk di ruang UKS,dirinya sibuk memerhatikan Afika yang bergerak mengambil kapas dan beberapa obat. Fino tersenyum geli melihat kondisinya saat ini. Mungkin ini yang dinamakan sengsara membawa nikmat.pikirnya.
Fino terus menatap wajah Afika,entah kenapa dia merasa sangat tenang saat menatap wajah cantik itu. mendadak dia ingin berlama-lama diobati Afika. Bahkan dia berharap lukanya semakin melebar.

Penggunaan bahasa untuk orang tua tokoh di sini langsung menyebutkan nama, sehingga membuat pembaca bingung apa status orang tersebut, selain itu cara memanggil yang seperti tadi terdengar kurang sopan. Namun, jalan cerita dalam Novel ini terasa tidak asing lagi dengan kehidupan remaja jaman sekarang dan bahasanya juga di kemas dalam bahasa anak muda sehari-hari sehingga membuat kita, sebagai seorang pembaca.  Tidak merasa canggung untuk ikut masuk dalam cerita.

SINOPSIS

 “denger ya,sheila! Gue udah tahu semua belang lo! berhenti ganggu hidup gue dan berhenti lo nyari-nyari gue! Gue udah muak liat tingkah cewek nggak tah diri kayak lo. Penipu!” ucap Fino tegas.
“maksud kamu apa sih,beib? Aku tuh nggak matre,aku nggak sok manis,yang ada aku beneran sayang sama kamu,” jawab Sheila selembut mungkin. “em.. sori,kayaknya ini bukan urusanku, aku pergi dulu, ya,” ucap Afika datar lalu meninggalkan mereka.

Fino,Afika dan Sheila. Tiga sosok yang mewakili remaja masa kini. Fino yang kaya dan tampan,Afika gadis sederhana yang memiliki pemikiran dewasa dan selalu rendah hati, dan Sheila gadis cantik yang berprinsip fashion di atas segalanya. Ketiganya memiliki konflik cinta yang saling berkaitan,ruwet seperti benang kusut.


TENTANG PENULIS

Melia Love Yanti, akrab di panggil melia adalah mahasiswa semester enam Universitas Sriwijaya. Mencintai dunia tulis sejak SMP hingga sekarang.hobinya disamping menulis dalah bermain biola. Di waktu senggang ,sering kali ia isi dengan blogwalking.

Melialovelystar.blogspot.com
Facebook: Melia Love Yanti
@Melia_Lovey

Tidak ada komentar:

Posting Komentar